Osteoporosis adalah penyakit tulang yang ditandai dengan menurunnya kepadatan massa tulang dan penurunan kemampuan regenerasi tulang bagian dalam serta ketidakmampuan mengatur kandungan mineral di dalam tulang.

Pada kondisi normal, tulang terus mengalami proses remodeling, yaitu pembentukan tulang baru dan penghancuran tulang lama yang berlangsung secara seimbang. Seiring bertambahnya usia atau akibat kondisi tertentu, proses pembentukan tulang menjadi lebih lambat dibandingkan penghancurannya sehingga massa tulang berkurang secara bertahap.

Osteoporosis dapat terjadi secara perlahan dalam kurun waktu yang lama. Hal inilah yang membuat penderitanya sering kali tidak menyadari gejala osteoporosis.

Seseorang yang mengalami osteoporosis akan mudah mengalami cedera di beberapa bagian, seperti:

  • Retak tulang belakang.
  • Retak tulang pinggul.
  • Retak tulang pergelangan tangan.
  • Retak tulang lengan.
  • Retak tulang panggul.

Dalam beberapa kasus osteoporosis berat, batuk atau bersin yang terjadi berulang kali juga dapat menyebabkan keretakan pada tulang rusuk atau tulang belakang. Penderita biasanya akan merasakan nyeri pada bagian tulang yang retak tersebut.

Masih banyak anggapan mitos osteoporosis yang beredar bahwa penyakit ini terjadi secara alami dan tidak dapat dihindari karena terjadi akibat penuaan. Faktanya, kondisi ini sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat dan pendeteksian osteoporosis dini.

Jenis-Jenis Osteoporosis

Secara umum, osteoporosis dibedakan menjadi dua jenis, yaitu osteoporosis primer dan osteoporosis sekunder.

  1. Osteoporosis Primer

Osteoporosis primer adalah kondisi penurunan kepadatan tulang pada wanita yang memasuki masa menopause dan lansia. Kondisi ini terjadi akibat menurunnya hormon estrogen pada usia lanjut yang dapat memicu pengeroposan tulang.

  1. Osteoporosis Sekunder

 Osteoporosis sekunder terjadi akibat penyakit tertentu atau penggunaan obat-obatan yang memengaruhi metabolisme tulang, misalnya:

  • Penggunaan kortikosteroid jangka panjang.
  • Gangguan hormon, seperti hipertiroidisme atau hiperparatiroidisme.
  • Penyakit ginjal kronis.
  • Penyakit saluran cerna yang menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi.
  • Penyakit autoimun.
  • Kondisi medis lainnya yang memengaruhi kesehatan tulang.

Penyebab Osteoporosis

Penyebab utama osteoporosis adalah ketidakseimbangan antara pembentukan tulang baru dan penghancuran tulang lama.

Pada masa muda, pembentukan tulang berlangsung lebih cepat sehingga massa tulang meningkat hingga mencapai puncaknya sekitar usia 30 tahun. Setelah itu, pembentukan tulang mulai melambat sementara penghancuran tulang berlangsung lebih cepat sehingga kepadatan tulang berangsur-angsur menurun.

Penurunan hormon estrogen setelah menopause, kadar testosteron yang rendah pada pria, penyakit tertentu, maupun penggunaan obat-obatan tertentu dapat mempercepat proses tersebut.

Faktor Risiko Osteoporosis

Faktor risiko osteoporosis terbagi menjadi beberapa kondisi, yaitu kondisi yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi.

Faktor risiko yang dapat dimodifikasi, yaitu:

  • Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol.
  • Penggunaan obat-obatan.
  • Kurang olahraga.
  • Kekurangan kalsium dan vitamin D.
  • Anoreksia nervosa.
  • Hormon estrogen yang rendah pada wanita.
  • Hormon testosteron yang rendah pada pria.

Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi:

  • Berjenis kelamin wanita.
  • Berusia di atas 50 tahun atau telah memasuki menopause.
  • Wanita dengan perawakan tubuh yang kurus dan kecil.
  • Memiliki keluarga dengan riwayat osteoporosis.
  • Pernah mengalami patah tulang.

Gejala Osteoporosis

Osteoporosis cenderung tidak menunjukkan gejala di tahap awal. Namun, kondisi ini biasanya ditandai dengan tulang yang mudah patah karena insiden kecil, seperti terpeleset, terjatuh, batuk atau bersin.

Seiring berjalannya waktu, osteoporosis akan menimbulkan beberapa gejala seperti:

  • Nyeri leher.
  • Nyeri tulang punggung bawah.
  • Rentan mengalami patah tulang.
  • Postur tubuh membungkuk.
  • Penurunan tinggi badan secara bertahap.

Gejala osteoporosis yang tidak segera ditangani akan membuat struktur dan komposisi tulang menipis dan melemah. Kondisi inilah yang meningkatkan risiko seseorang mengalami patah tulang.

Cara Mengobati Osteoporosis

Pengobatan osteoporosis bertujuan mengurangi risiko patah tulang, mempertahankan kepadatan tulang, serta memperlambat proses pengeroposan tulang. Dokter akan menentukan terapi sesuai usia, tingkat keparahan, penyebab, dan risiko patah tulang masing-masing pasien. Beberapa rencana pengobatan osteoporosis adalah sebagai berikut:

  • Pemberian obat bifosfonat: Bifosfonat merupakan terapi yang paling sering digunakan untuk memperlambat pengeroposan tulang dan menurunkan risiko patah tulang.
  • Pengobatan antibodi monoklonal: Pada kondisi tertentu, dokter dapat memberikan terapi antibodi monoklonal melalui suntikan untuk membantu menjaga kepadatan tulang dan mengurangi risiko patah tulang.
  • Terapi hormon: Apabila osteoporosis berkaitan dengan rendahnya kadar hormon tertentu, dokter dapat mempertimbangkan terapi hormon sesuai indikasi.
  • Memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D: Kalsium dan vitamin D penting untuk menjaga kesehatan tulang. Keduanya dapat diperoleh dari makanan atau suplemen sesuai anjuran dokter.

Cara Mencegah Osteoporosis

Beberapa upaya yang dapat dilakukan sebagai pencegahan osteoporosis adalah sebagai berikut:

  • Memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D sesuai usia.
  • Rutin melakukan aktivitas fisik, terutama latihan beban dan latihan keseimbangan.
  • Menjaga berat badan ideal.
  • Tidak merokok.
  • Membatasi konsumsi alkohol.

Bagi kelompok yang berisiko tinggi, dokter dapat menyarankan pemeriksaan kepadatan tulang menggunakan DEXA scan untuk mendeteksi osteoporosis sejak dini.

Pencegahan dan deteksi dini berperan penting dalam menurunkan risiko patah tulang akibat osteoporosis. Namun, gejala maupun faktor risiko di atas tidak selalu menandakan seseorang mengalami osteoporosis karena dapat ditemukan pada kondisi medis lainnya.

Leave a Comment